Kelamin Ketiga

Reads
0
Votes
0
Parts
12
Vote
Report
Penulis Atpress2014

Bab 10

Sarinya memerhatikan kepala Ayuthaya yang tertunduk tanpa menangis, sedangkan pipinya sudah berkali-kali basah dan berkali-kali mengering. Saat itu, tangannya terlalu mungil untuk menggendong Ayuthaya yang sudah cukup tinggi dan bertubuh gempal. Usia mereka berjarak tujuh tahun. Sarinya sudah berusia dua belas tahun dan Ayuthaya berusia lima tahun.

“Kak, kenapa Ibu ditinggal sendirian di peti? Kenapa peti ibu dimasukkan ke tanah?” Ayuthaya bertanya dengan nada khawatir. “Kak, Ibu berani sekali, ya? Kenapa tidak kita temani?”

Untuk pertama kali, Sarinya tidak bisa menjawab pertanyaan Ayuthaya. Ia hanya mengatakan, “Habis ini kita makan nasi dan Tod Man Khao Pod[1] yang kau sukai.”

Sesampainya di rumah, dia langsung menanak nasi dan menyisir jagung. Biji jagung akan dicampur dengan pasta kari merah, telur, tepung beras, baking powder, garam, dan daun jeruk makrut sebelum digoreng. Setelah matang, Ayuthaya makan dengan lahap dan melupakan sederet pertanyaan saat di makam.

Di makam banyak tetangga bergosip. Mereka adalah anak malang yang memiliki ayah suka KDRT. Tetangga bilang, ibu adalah korban KDRT. Kalau ibu mati, maka ayahlah pembunuhnya. Tetangga pun mengkasihani, bahwa dua anak yang sudah menjadi piatu itu harus diberikan sumbangan agar tetap hidup layak dan bisa bersekolah.

Berminggu-minggu, berbulan-bulan, dan hampir setahun, Sarinya tidak kunjung menerima sumbangan. Proteslah dia ke kepala desa. Kata kepala desa, uang sumbangan sudah diberikan kepada Ayah. Lantas Sarinya jawab, “Kata kalian, ayahku tak waras. Jadi kenapa kalian berikan uang itu ke orang yang tak waras?”

Sebulan berikutnya, uang sumbangan diberikan langsung ke Sarinya dan Ayah mengetahuinya. Nasib Sarinya makin hancur. Habislah dia dipukul Ayah sampai babak belur sebab Sarinya berusaha mencengkeram uang yang diberikan kepala desa. Beruntung, Ayuthaya tidak pernah ada di rumah saat Ayah mengamuk dan menghajarnya. Kalau Ayuthaya pulang dan mengetahui badannya lebam-lebam, Sarinya tinggal berdalih kalau habis terjatuh saat bermain. Sarinya tidak ingin sekolah Ayuthaya terganggu. Jadi, sebisa mungkin dia membuat Ayuthaya tidak tertekan dan betah di rumah. Sepertinya Ayah pun tau niat Sarinya, sebab Ayah tidak pernah marah saat Ayuthaya ada di rumah. Meski dia yakin, alasan terbesar Ayah tidak marah ke Ayuthaya, sebab adiknya itu mirip dengan Ibu. Ayah mencinta Ibu.

Anggapan bahwa Ayah menyayangi Ayuthaya pun runtuh ketika dia ditipu habis-habisan. Ayah bilang bahwa hari itu akan mengajak mereka jalan-jalan menikmati es krim dan jajanan pinggir jalan saat festival. Ayah menyuruhnya dan Ayuthaya memakai pakaian bagus dan berdandan cantik. Senanglah mereka saat itu. Namun, kesenangan mereka berubah saat mereka bertemu dengan perempuan dewasa dengan beberapa lelaki berbadan besar—yang berdiri di belakang si Perempuan Tua.

“Aku membawakan barangnya,” kata Ayah, “kau bayar berapa?”

Perempuan Tua itu melirik Sarinya dan Ayuthaya. “Benar tidak ada cacat dan bekas luka?”

Ayah berbicara dengan yakin. “Ya.”

“Sepaket, 7.000 bath.”

Ayah menawar, “Tidak bisakah lebih tinggi dari itu?”

“Mereka belum tentu bisa menghasilkan uang sebanyak itu kepadaku. Yang satu masih asam, yang satu baru berbuah. Lama sekali matangnya,” ujar Perempuan Tua. “Jadi kau mau atau tidak?”

Ayah tersenyum dan kedua tangan ayah saling mengkusuk. “Ya, ya. Silakan diambil.”

Sarinya dan Ayuthaya mendengar semua pembicaraan mereka dengan saksama. Saat itu Sarinya masih berpikir, Ayah harus menjual sesuatu agar mereka bisa pergi ke Festival. Bagaimanapun, Ayah sudah berjanji membelikan mereka es krim.

Ketika lelaki berbadan besar menggendong mereka dan Ayah pergi begitu saja dengan semringah, Sarinya langsung memiliki firasat buruk. Dia terkejut dengan keputusan Ayah, dan yang paling membuatnya kecewa adalah fakta bahwa Ayah juga menjual Ayuthaya. Ternyata Ayah tidak sesayang itu kepada Ayuthaya.

“Ayah. Ayah. Ayahh!” teriak Ayuthaya.

“Ayah, mau ke mana?”

“Ayah, bagaimana dengan festivalnya?”

“Ayah sudah janji bawa kami jalan-jalan.”

“Ayahhh!”

Ayuthaya menangis keras, tetapi Ayah tidak menoleh sama sekali. Sarinya tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya berusaha memegang tangan Ayuthaya yang juga berapa di gendongan lelaki bertubuh besar lainnya. Ketika Ayuthaya merasakan sentuhan tangan Sarinya, gadis itu merengek, “Kak, Ayah pergi. Ayah berbohong.”

Tanpa ragu Sarinya berkata, “Iya. Ayah memang sering berbohong.”

Perempuan Itu bertepuk tangan dan membuat mereka berdua menoleh ke arahnya. “Sudah. Tidak apa-apa. Kalian aman bersamaku.”

Sarinya curiga. Tidak mungkin Perempuan Itu memberikan janji keamanan secara cuma-cuma. Ayah kandungnya saja tidak pernah memberikan rasa aman kepada mereka. “Siapa? Kau siapa?”

Perempuan itu menepuk kepala Sarinya dan Ayuthaya satu per satu. “Nah, kenalkan, aku Madam Dao. Ibu baru kalian.”

***

Madam Dao menggandeng Sarinya dan Ayuthaya ke dalam Thisam. Suara musik terdengar keras. Meski tidak sampai memekak telinga, tetapi tetap saja terdengar tidak nyaman. Aroma asing tercium. Sesekali Sarinya menutup hidung. Dan aroma itu makin menusuk, ketika Madam Dao mengajak menuntun mereka ke sebuah ruangan remang-remang, berhiaskan lampu berwarna-warni. Ada lelaki menjerit-jerit di sofa sambil membawa segelas minuman. Ada perempuan yang bergoyang senggol kanan, senggol kiri. Ada lelaki yang berusaha mendekatkan wajahnya ke arah perempuan, lalu secepat kilat bibir mereka saling menempel. Bahkan, ada lelaki yang sedang menyusu.

Sarinya langsung melepas gandengan tangan Madam dao, menghampiri Ayuthaya dan memeluknya sambil mengarahkan kepala Ayuthaya ke dadanya. “Jangan melihat,” kata Sarinya.

Madam Dao terkekeh. “Kau kakak yang baik.”

Sarinya tidak berani memandang Madam Dao. Dia sudah memiliki firasat kalau tempat ini bukan tempat yang baik. Usianya sudah cukup matang untuk melihat dan menentukan benar-salah. Otaknya mampu berpikir dan menilai situasi. “Apa kami harus melakukan hal itu?”

“Untuk sekarang hanya kau yang melakukannya. Gini-gini aku tidak tega mempekerjakan anak di bawah umur,” kata Madam Dao.

Sejak saat itu, Sarinya mulai mengenali nasibnya.

Konon, diceritakan kalau setiap doa dari seorang anak akan didengar dan dikabulkan. Saat sebelum anak bertumbuh remaja, dia dianggap sebagai anugerah yang suci dan orang yang membuatnya menangis akan dikutuk. Namun, sepertinya cerita tetaplah cerita. Sarinya sudah sering berdoa agar hidupnya dan Ayuthaya akan membaik dan indah. Sarinya selalu berdoa agar suatu saat ayahnya berhati lembut dan memerhatikan keberadaan mereka, kemudian kembali membangun keluarga hangat seperti keluarga teman-temannya.

Anehnya, kini Sarinya berjanji tidak akan berdoa lagi. Dia tidak akan meminta Ayah untuk menjemput mereka pulang ke rumah, melainkan dia akan datang ke rumah tanpa perlu diminta.

Konon, dia pernah mendengar cerita-cerita yang tersebar dari tetangga, tentang seorang perempuan yang menafkahi anaknya dengan cara menjual diri. Meski bukan tindakan kriminal, orang itu dicap menyalahi norma dan biadab-biadabkan. Kemudian masyarakat sekitar mengaraknya dan diusir dari kampung kelahiran dengan dalih “membersihkan desa dari kesialan”. Namun, bagaimana jika ada seorang ayah yang menukarkan kedua putrinya dengan uang receh ke tempat perempuan—yang diusir dari kampung—yang menjual diri itu? Apakah tetangga akan mengarak si ayah atau putrinya?

Anehnya, Sarinya tidak berharap si ayah di arak tetangga, melainkan dibunuh oleh putrinya.



[1] Tod Man Khao Pod: Masakan goreng jagung khas hailand.


Other Stories
Sinopsis

hdhjjfdseetyyygfd ...

Puzzle

Ros yatim piatu sejak 14 tahun, lalu menikah di usia 22 tapi sering mendapat kekerasan hin ...

Adam & Hawa

Adam mencintai Hawa yang cantik, cerdas, dan sederhana, namun hubungan mereka terhalang ad ...

After Honeymoon (17+)

Dipaksa menikah demi ambisi keluarga, Kirana dan Rhea terjebak dalam pernikahan tanpa cint ...

Jam Dinding

Setelah kematian mendadak adiknya, Joni selalu dihantui mimpi buruk yang sama secara berul ...

Di Bawah Atap Rumah Singgah

Vinna adalah anak orang kaya. Setelah lulus kuliah, setiap orang melihat dia akan hidup me ...

Download Titik & Koma